Malam itu rumah keluarga Nisa dipenuhi ketegangan. Lampu ruang tamu yang biasanya redup kini terasa seperti membakar suasana. Ayah Nisa—Pak Surya, juragan bebek paling sukses dan disegani di kampung duduk dengan wajah mengeras. Suaranya pecah memecah keheningan.
“Anak gadis umur dua puluh tujuh tahun masih bisa hilang semalam begitu saja! Apa kata orang nanti?!”
Bu Rahmi berusaha menenangkan, duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya. “Pak, jangan keras begitu. Nisa kan tidur di rumah Bulek Rani. Saudara kita sendiri. Lagipula dia cuma nganter anak-anak Jakarta itu. Kasihan Nisa, dari dulu selalu Bapak tekan. Biarkan dia bergaul sedikit.”
Pak Surya mendengus. “Bergaul? Dengan laki-laki kota?
“Lho, Devannya bukan orang asing. Anak Alm. Pak Mahendra. Dulu juga tinggal di kampung sini,” jawab Bu Rahmi perlahan.
Ucapan itu membuat Pak Surya terdiam. Bukan karena setuju melainkan karena pikirannya mulai bekerja. Ia menunduk, mengetuk-ngetuk meja dengan jari.
“Bun… Pak Mahendra itu orang kaya. Memiliki perusahaan besar di Jakarta. Setelah orang tuanya meninggal, semua pasti jatuh ke Devan.” Ia menatap istrinya, matanya menyipit penuh perhitungan. “Kenapa nggak sekalian kita nikahkan Nisa sama dia?”
Bu Rahmi tersentak. “Astaghfirullah… apa maksud Bapak bicara begitu? Jangan mainkan hidup anak sendiri.”
Pak Surya mengabaikan protes istrinya. “Nisa itu, Bun… teman-teman seusianya sudah punya anak. Anaknya sudah sekolah. Kita? Cucu aja belum kebayang. Kalau sama Devan, hidupnya bakal enak. Orang kaya, mapan. Kita jebak saja sekalian. Dia udah bawa anak gadis orang semalam-malaman.”
Bu Rahmi menggeleng kuat, suaranya bergetar. “Tidak baik begitu, Pak. Jangan jadikan pernikahan Nisa sebagai alat. Kita ingin dia bahagia, kan?”
Pak Surya menatap istrinya lama, napasnya berat.
“Justru karena ingin dia bahagia… kita nikahkan sama Devan. Anak orang kaya.”
Kali ini Bu Rahmi tidak menjawab. Ia hanya menunduk, hatinya gundah. Karena ia tahu, jika suaminya sudah punya rencana… sangat sulit menghentikannya.
***
Keesokan harinya, suasana rumah Nisa sudah tegang bahkan sebelum ia tiba. Pak Surya duduk di ruang tamu dengan wajah dingin, napas naik turun penuh emosi tertahan. Bu Rahmi mondar-mandir gelisah, mencoba menenangkan diri namun tahu suaminya sulit dibendung.
Begitu langkah Nisa terdengar di teras, Pak Surya langsung menatap pintu tajam seperti pisau.
Pintu terbuka pelan.
“Bapak… Assalamualaikum,” ucap Nisa ragu.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak Surya, tapi nadanya keras. “Sini kamu.”
Nisa mendekat perlahan. Degup jantungnya tak beraturan. Ia tahu bapak pasti marah, tapi tidak tahu sejauh apa.
“Apa maksud kamu keluyuran semalaman?” suara bapaknya menghentak. “Menginap sama orang luar! Sama laki-laki pula! Kamu sengaja mau bikin malu keluarga?!”
Nisa terdiam, tubuhnya menegang.
“Pak, bukan begitu—”
“Terus apa?! Jelasin!”
Pak Surya bangkit berdiri. Suaranya menggema di seluruh rumah.
Nisa menelan ludah, mencoba menahan air mata.
“Aku nginap di rumah Bulek Rani… rame-rame, Pak. Ada Queena, Jihan—”
“Justru itu! Ngapain ikut rombongan laki-laki kota itu?!”
Pak Surya mendekat, menyudutkan. “Kamu itu perempuan, Nisa. Jaga diri! Jaga nama keluarga! Atau kamu sengaja mau dipikir macam-macam?!”
Nisa menggeleng panik. “Yah… aku cuma bantu Dev—”
“DEVAN!” suara Pak Surya meninggi, penuh nada tuduhan. “Nah, itu dia! Laki-laki itu yang bawa kamu ke tempat asing sampai nginep! Kurang ajar! Dia harus tanggung jawab!”
“Bapak salah paham!” suara Nisa pecah. “Sumpah… Devan nggak ngapa-ngapain!”
Tapi Pak Surya tak mau mendengar.
Ia mengambil ponsel di meja. “Kita telepon dia sekarang. Biar dia datang kemari!”
Nisa memucat. “Jangan, Pak… jangan libatkan Devan.”
Tapi Pak Surya sudah menekan nomor. Hanya beberapa dering sebelum suara Devan menjawab.
“Halo? Nisa?”
Bukan Nisa yang berbicara.
“Ini Bapaknya Nisa,” kata Pak Surya tegas. “Bisa datang ke rumah? Ada yang ingin Bapak bicarakan.”
Devan terdengar bingung. “Ada apa, Pak? Terjadi sesuatu?”
Nisa spontan merebut ponsel dengan panik. “Dev, maaf… bukan maksud melibatkan kamu… Bapak hanya salah paham. Kamu jangan repot-repot—”
Dari seberang, suara Devan berubah serius.
“Nisa… gue ke sana sekarang.”
“Dev, jangan—” Nisa menahan.
“Tunggu di rumah. Gue datang.”
Sambungan terputus.
Nisa menunduk, tangan bergetar, sementara Pak Surya tersenyum tipis—bukan lega, tapi puas dengan rencananya.
Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar dari depan rumah.
Devan turun dari mobil, wajahnya tegang, sorot matanya langsung mencari Nisa.
“Bapak mau bicara,” kata Pak Surya sambil menyilangkan tangan di dada seraya menyambut kedatangan Devan.



