Kita sering menyaksikan di beberapa kondisi tentang dua jiwa yang hari ini saling mencintai dan saling menyayangi tapi beberapa waktu berikutnya mungkin akan saling menyalahkan, saling menyakiti atau bahkan saling meninggalkan terlepas apapun alasan di dalamnya. Sesayangnya orangtua terhadap anak, jika anak itu banyak membebani orangtuanya maka kebencian itu muncul perlahan dalam lupaan kekecewaan dari orang tua terhadap anaknya. Pun sebaliknya anak terhadap orangtua. Begitu banyak kita saksikan keharmonisan keluarga, suami istri misalnya, tetapi ketika salah satu pihak berbuat salah, tanpa ampun mereka akan saling menghujat dan meninggalkan satu sama lain. Bahkan mereka bisa menjadi orang asing dalam sekejap. Dalam kehidupan modern yang serba cepat, manusia kerapkali terjerat dalam pusaran relasi antarsesama. Pada titik tertentu, kecintaan terhadap sesama makhluk bisa saja lebih dominan melebihi kecintaannya kepada Tuhan, kepada Dzat yang justru menciptakan dan menghidupkannya. Ini bukanlah persoalan baru. Dalam sejarah panjang kehidupan manusia, kelalaian terhadap Tuhan adalah penyakit spiritual yang seringkali terus berulang.
Kita sering lupa, bahwa hanya Allah SWT yang tidak akan pernah meninggalkan kita. Seburuk apapun kita sebagai hamba, sebanyak apapun dosa yang kita lakukan, seberapa sering kita berpikir dan berperilaku negatif terhadap-Nya. Kasih sayang Allah tidak akan pernah berhenti untuk kita. Bahkan Ketika dalam kondisi kecewa terhadap diri sendiri hingga tidak mau keluar rumah, enggan beraktivitas hingga ingin mengakhiri hidup percayalah Allah tidak pernah membiarkan kita. Selalu ada acara-Nya mengingatkan bahwa semua akan baik-baik saja seizin-Nya.
Allah berfirman:
“Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(QS. Al-Hasyr: 19)
Ayat ini memperingatkan bahwa melupakan Allah bukan hanya mengakibatkan keterputusan hubungan vertikal, tetapi juga menimbulkan kehampaan eksistensial yang merusak jati diri manusia. Ketika Allah tidak lagi menjadi orientasi hidup, manusia cenderung membangun hidupnya diatas pondasi yang rapuh. Maka cintailah Allah segenap jiwa raga kita. Allah pasti memberikan takdir terbaiknya.
Wallahu a'lam bish-showab..



