“Bila dengan sebenarnya hendak memajukan peradaban, maka haruslah kecerdasan pikiran dan kecerdasan budi sama-sama dimajukan.”
(Surat kepada Ny. Ovink-Soer, awal tahun 1900)
Kartini seakan ingin mengingatkan bahwa perempuan yang tidak dibekali dengan ilmu dan akal sehat akan mudah jatuh dalam jebakan emosi, terombang-ambing oleh cinta yang semu, pengorbanan yang buta, atau bahkan kepatuhan yang mematikan logika. Dalam konteks ini, selayaknya ungkapan “perempuan mati dibunuh oleh perasaannya sendiri” memberi makna bahwa kehancuran mental dan bahkan fisik seorang perempuan bisa bermula dari ketidakmampuannya dalam mengelola rasa, saat ia tidak diberi ruang dan bekal untuk berpikir secara merdeka dan cerdas. Ia bisa mati bukan karena orang lain menindas, melainkan karena dirinya sendiri kehilangan kendali atas hidupnya. Maka, pendidikan adalah jalan penyelamatan bagi perempuan. Sebab dari kecerdasan, lahirlah kebijaksanaan. Dan dari kebijaksanaan itulah lahir perempuan yang kuat, perempuan yang utuh, dan perempuan yang mampu berdiri di atas keputusannya sendiri.
Pemikiran ini juga sejalan dengan pandangan Imam Al-Ghazali, seorang ulama dan filsuf besar Islam, yang menekankan pentingnya ‘aql (akal) dalam menjalankan kehidupan yang seimbang. Al-Ghazali dalam ‘Ihya Ulumuddin’ menyatakan bahwa akal adalah anugerah tertinggi yang membedakan manusia dari makhluk lain, dan bahwa akal harus menjadi pengendali nafsu dan emosi. Ia menulis “Akal adalah pemimpin, sedangkan hawa nafsu adalah prajuritnya. Jika pemimpin tidak cerdas, maka prajurit akan membawa kehancuran.” Dengan kata lain, perempuan sebagaimana laki-laki harus diberi ruang untuk mendayagunakan akalnya secara optimal melalui pendidikan, agar tidak dikendalikan semata oleh dorongan perasaan.
“Dan gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tiada akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.”
(Surat kepada Nn. Zeehandelaar, 23 Agustus 1900)
Disinilah pentingnya kembali memaknai kembali pemikiran Kartini, bukan sebagai nostalgia masa lalu, tetapi sebagai refleksi kontemporer untuk mengkritisi dan mengoreksi ketimpangan yang masih terjadi saat ini. Kartini tidak sedang mengajak perempuan untuk melawan laki-laki, melainkan mengajak seluruh masyarakat baik laki-laki dan perempuan untuk membebaskan diri dari struktur yang merendahkan martabat salah satu pihak.
Wallahu a-lam bish-showab..



