Sebelum Kita Melangkah Lebih Jauh...
Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri?
Mengapa hidup orang lain di layar ponsel sering terlihat lebih indah daripada hidup yang sedang kita jalani?
Mengapa foto-foto kebahagiaan orang lain terkadang mampu membuat kita meragukan kebahagiaan yang sebenarnya sudah ada dalam hidup kita?
Mengapa kita merasa tertinggal hanya karena melihat seseorang yang tampak lebih sukses, lebih cantik, lebih kaya, atau lebih bahagia?
Mengapa kita sering membandingkan seluruh isi kehidupan kita dengan potongan-potongan terbaik kehidupan orang lain?
Kapan terakhir kali kita mensyukuri hidup tanpa perlu membuktikannya kepada siapa pun?
Apakah kita sedang menikmati hidup, atau hanya berusaha terlihat menikmati hidup?
Dan yang lebih penting lagi...
Jika suatu hari tidak ada media sosial, tidak ada penonton, tidak ada yang memberikan pujian, tidak ada yang mengetahui pencapaian kita, apakah kita masih merasa bahagia dengan kehidupan yang kita miliki saat ini?
Dalam rentang sejarah kehidupan manusia, belum pernah ada zaman yang begitu cepat mengubah cara berpikir, cara merasa dan menilai seperti hari ini. Media sosial telah menjadi “kitab” baru tempat orang mencari validasi, mencari makna, bahkan mencari arah hidup. Apa yang dulunya dianggap sebagai kebutuhan bathiniah seperti ketenangan, kesyukuran, dan makna hidup kini tergeser oleh nilai-nilai yang bisa ditampilkan, dikomentari, dan diviralkan.
Sebagai seorang guru, saya menyaksikan langsung bagaimana standar hidup siswa pelan-pelan kini berubah. Ketika saya bertanya kepada mereka tentang orientasi hidup, jawaban yang paling sering muncul bukan lagi ingin sukses “agar bermanfaat bagi banyak orang” atau ingin “menjadi pribadi yang bertumbuh,” tetapi se-spontanitas ”ingin cepat kaya,” “viral” atau “punya followers banyak.”
Hidup seperti ini menjadi bising oleh perbandingan yang tidak adil dan pencitraaan yang tidak pernah selesai. Uang, popularitas, dan gaya hidup mewah bukan lagi tujuan yang dicapai lewat proses panjang, melainkan sesuatu yang harus diraih dengan cara apapun asalkan terlihat berhasil di mata orang.
Salah seorang siswa saya pernah berkata “Saya malu upload foto kalau bajunya itu-itu saja. Rasanya minder.” Ia mengukur keberhargaan dirinya dari like dan komentar yang ia dapatkan. Dan kita melihat tidak sedikit orang yang merasa hidupnya “kurang” karena melihat hidup oranglain, atau mungkin teman sebayanya sudah keliling dunia, punya mobil, punya bisnis, atau dikenal banyak orang. Bahkan ada yang sampai kehilangan arah, karena hidupnya tidak seindah feed orang lain.
Padahal apa yang tampak belum tentu nyata. Sebagaimana Al-Quran menggambarkan:
(QS. Thaha: 131)
Allah menyebut harta dan kemewahan dunia hanyalah “bunga kehidupan dunia” memang indah, tetapi sementara, dan penuh dengan ujian. Sedangkan apa yang datang dari Allah, seperti ketenangan hati dan keberkahan hidup, itulah yang lebih baik dan abadi.
Nabi Muhammad SAW telah mewanti-wanti umatnya dari hidup yang hanya berorientasi kepada dunia dan kemewahan semata. Dalam sabdanya:
“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian bagus. Jika diberi dia senang jika tidak diberi, dia marah…” (HR. Bukhori)
Rasulullah SAW menggunakan istilah “hamba dirham” untuk menggambarkan manusia yang hidupnya dikendalikan oleh materi. Dan ternyata media sosial mempercepat kecenderungan ini. Menjadikan uang atau tampilan sebagai ilah (tuhan kecil) yang ditakuti dan dikejar.
Padahal Islam sangat menekankan bahwa keberhasilan hidup bukan diukur dari apa yang kita tampilkan, melainkan apa yang kita lakukan secara ikhlas dan konsisten untuk memperbaiki diri dihadapan Sang Ilahi.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan hartamu, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal perbuatanmu.” (HR. Muslim)
Sebagai pendidik, saya merasakan betapa beratnya menanamkan nilai keihklasan, kerja keras, dan kesabaran di tengah dunia yang serba instan dan ingin tampil. Tapi ini pula yang menjadi ujian utama dimana membentuk generasi yang tidak hanya bisa bersaing tetapi juga berdamai dengan dirinya sendiri.
Kita tidak bisa sepenuhnya memalingkan anak-anak dari media sosial, tetapi kita bisa membimbing mereka agar memiliki inner compass (kompas batiniah), agar tidak kehilangan arah dalam lautan pencitraan. Bahwa hidup bukan untuk menjadi siapa yang lebih kaya, lebih viral, atau lebih dilihat, tetapi siapa yang lebih bertakwa, lebih bersyukur, dan lebih bermanfaat.
Hidup yang didasarkan pada standar media sosial ibarat mengejar bayangan, semakin dikejar, semakin jauh dan melelahkan. Ketenangan bukan datang dari sorotan publik, tetapi dari hubungan yang baik antara manusia dengan Tuhannya.
Semoga kita diberi kekuatan untuk menata ulang orientasi hidup, bukan hanya berdasarkan apa yang dilihat dunia tetapi dari apa yang diridhai Allah SWT.
Wallahu a'lam bish-showab..



