Pendahuluan
Dalam kehidupan berkeluarga, kita sering menjumpai fenomena yang menarik tetapi disisi lain justru menimbulkan beragam pertanyaan. Mengapa sebagian lelaki mampu menunjukkan kasih sayang, perhatian, dan pengorbanan yang luar biasa kepada ibunya, tetapi pada saat yang sama tampak abai terhadap istrinya?
Fenomena ini bukanlah tentang memilih antara ibu atau istri. Tidak ada ajaran agama maupun norma sosial yang mengharuskan seorang laki-laki mengurangi baktinya kepada ibu demi membahagiakan istrinya. Namun, persoalannya muncul ketika kasih sayang dan penghormatan kepada ibu justru dijadikan pembenaran untuk mengabaikan kebutuhan emosional, fisik, dan psikologis sang istri.
Dalam kajian psikologi sosial, kondisi ini dapat dipahami sebagai bentuk standar ganda, yaitu penerapan nilai yang berbeda terhadap dua situasi yang sebenarnya memiliki karakteristik yang serupa.
Secara sederhana, standar ganda terjadi ketika seseorang menggunakan ukuran yang berbeda untuk menilai orang lain dalam kondisi yang hampir sama.
Misalnya, seorang lelaki mengatakan bahwa ibunya harus dihormati karena telah melahirkan, mengurus, dan membesarkannya. Pernyataan tersebut tentu benar dan tidak dapat diperdebatkan. Namun pada saat yang sama, ia mengabaikan fakta bahwa istrinya juga sedang menjalankan peran yang tidak kalah besar, mengandung, melahirkan, mengasuh, dan membesarkan anak-anaknya.
Ironisnya, pengorbanan ibu sering dianggap luar biasa karena telah terjadi di masa lalu, sementara pengorbanan istri dianggap biasa karena terjadi setiap hari.
Padahal, keduanya sama-sama membutuhkan penghargaan.
Mengapa Hal Ini Terjadi?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya standar ganda dalam kehidupan rumah tangga.
1. Pengaruh Budaya Patriarki
Dalam banyak masyarakat, laki-laki dibesarkan dengan penekanan kuat untuk berbakti kepada orang tua, terutama ibu. Nilai ini sangat positif. Namun sayangnya, pendidikan tentang bagaimana menghargai dan memperlakukan istri secara setara sering kali tidak diberikan dengan porsi yang sama.
Akibatnya, sebagian lelaki memahami kewajiban terhadap ibu secara mendalam, tetapi kurang memahami tanggung jawab emosional terhadap pasangannya.
2. Pengorbanan yang Tidak Terlihat
Psikologi menyebut adanya fenomena invisible labor atau pekerjaan yang tidak terlihat.
Mengurus rumah, menyiapkan makanan, mendampingi anak belajar, mengingat jadwal keluarga, serta menjaga kestabilan emosional rumah tangga sering dianggap sebagai hal biasa karena dilakukan terus-menerus.
Karena terlalu sering melihatnya, sebagian suami menjadi kurang peka terhadap besarnya pengorbanan yang dilakukan sang istri tersebut.
3. Kedekatan Emosional Masa Lalu
Hubungan anak dengan ibu telah terbentuk sejak lahir. Kenangan masa kecil, perjuangan ibu, dan ikatan emosional yang panjang menciptakan rasa hutang budi yang kuat.
Sebaliknya, hubungan dengan istri dianggap sebagai sesuatu yang "sudah sewajarnya ada", sehingga perhatian terhadap pasangan sering kali menurun seiring berjalannya waktu.
Dampak bagi Kehidupan Rumah Tangga
- Standar ganda tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan atau pertengkaran besar dalam rumah tangga. Sering kali ia hadir dalam bentuk yang lebih kecil seperti kurang respek dan tidak peduli.
- Seorang suami segera memenuhi kebutuhan ibunya, tetapi selalu menunda kebutuhan istrinya bahkan tidak mempriorotaskan.
- Ia cepat merespons telepon ibunya, tetapi lambat menjawab pesan istrinya.
- Ia memahami kelelahan ibunya, tetapi menganggap kelelahan istrinya sebagai sesuatu yang biasa.
Perilaku seperti ini lambat laun dapat melahirkan luka emosional yang mendalam.
Istri merasa tidak lagi dihargai. Ia mulai mempertanyakan posisinya dalam kehidupan suami. Yang lebih berbahaya, anak-anak yang menyaksikan pola tersebut dapat menjadikannya sebagai model relasi yang normal untuk ditiru di masa depan.
Perspektif Islam: Keadilan dalam Kasih Sayang
Islam menempatkan ibu pada posisi yang sangat mulia. Bahkan Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa ibu lebih berhak mendapatkan bakti seorang anak.
Namun Islam juga menekankan pentingnya memperlakukan istri dengan baik.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku."
Hadis ini menunjukkan bahwa kemuliaan seorang laki-laki tidak hanya diukur dari baktinya kepada ibu, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya, termasuk istrinya.
Berbakti kepada ibu dan memuliakan istri bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru merupakan bentuk tanggung jawab yang harus dijalankan secara seimbang.
Ada sebuah pertanyaan sederhana yang layak direnungkan oleh setiap lelaki.
Jika alasan menghormati ibu adalah karena beliau telah melahirkan dan membesarkan kita, lalu mengapa kita terkadang lupa menghargai perempuan yang sudah bersusah payah melahirkan dan berjuang membesarkan anak-anak kita?
Ibu adalah perempuan yang menghadirkan kita ke dunia.
Istri adalah perempuan yang membantu kita menghadirkan generasi berikutnya.
Ibu menjaga masa lalu kita.
Istri menjaga masa depan kita.
Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan.
Penutup
Standar ganda dalam kehidupan rumah tangga sering kali tidak lahir dari kebencian semata, tetapi justru terlahir dari kurangnya kesadaran lelaki. Banyak lelaki yang begitu fokus menjadi anak yang baik hingga lupa belajar menjadi suami yang baik.
Padahal keluarga yang sehat tidak dibangun dengan memilih antara ibu atau istri. Keluarga yang sehat dibangun dengan kemampuan memberikan penghormatan yang proporsional kepada keduanya.
Karena sesungguhnya, lelaki yang matang bukanlah lelaki yang hanya mampu mencintai ibunya. Ia adalah lelaki yang mampu menghormati setiap perempuan yang telah berkorban dalam hidupnya, baik perempuan yang melahirkannya maupun perempuan yang melahirkan anak-anaknya.




