Di era digital ini, media sosial menjadi panggung ekspresi yang sangat terbuka, tanpa batas usia maupun batas norma. Salah satu fenomena yang sering banyak ditemui adalah munculnya sosok laki-laki dengan gestur yang feminin. Bahkan dalam beberapa kasus, seseorang secara sadar membentuk citra publik sebagai “figur kemayu” melalui platform seperti TikTok atau media sosial lainnya. Video pendek dengan gaya bicara, pakaian, hingga tarian menyerupai perempuan disebarluaskan dan mendapatkan respons yang beragam mulai dari "tepuk tangan", komentar positif, hingga menjadi idola dalam lingkaran virtual.
Fenomena ini kemudian tidak berhenti di layar ponsel semata. Tetapi juga merembes masuk ke kehidupan nyata, termasuk salah satunya lingkungan pendidikan. Dalam beberapa kesempatan di sekolah, saya menyaksikan bagaimana siswa laki-laki yang memiliki kecenderungan berperilaku kemayu justru diberikan ruang tampil di panggung-panggung kegiatan seperti pentas seni, lomba kelas, hingga acara perayaan tertentu. Di lingkungan sekolah, tidak jarang fenomena ini dianggap sebagai hiburan dan ekspresi seni yang perlu diapresiasi.
Relativisme berpandangan bahwa nilai-nilai moral tidak memiliki standar universal yang mutlak. Sehingga sesuatu dinilai baik atau buruk tergantung dari sudut pandang kelompok atau budaya tertentu melihatnya. Maka tidak heran jika dalam sistem nilai relativistik, menjadi lelaki kemayu tidak lagi dianggap menyimpang, melainkan sah-sah saja selama tidak merugikan oranglain. Sebagian kalangan bahkan mempromosikan bahwa gender adalah spectrum yang tidak perlu dibatasi oleh dikotomi laki-laki dan perempuan secara biologis maupun peran sosialnya.
Namun demikian jika dikembalikan pada perspektif Islam sebagaimana agama yang membawa kebenaran yang hakiki dan bersumber dari wahyu, maka pandangan relativisme semacam ini menyalahi prinsip dasar syariat.
Sebagai guru, saya merasa ini adalah sebuah peristiwa yang tidak bisa dilewatkan begitu saja tanpa refleksi. Bukan karena saya ingin menjadi hakim moral, tetapi karena saya memandang bahwa ada pelajaran penting yang Allah SWT ingin sampaikan melalui fenomena ini. Allah SWT mengajarkan manusia bukan hanya lewat kebaikan, tetapi juga melalui kerancuan, kekhilapan, dan kekeliruan kolektif yang dilakukan manusia yang perlu dikaji dengan jernih dan sabar.
Dalam konteks ini agama Islam memberikan panduan yang tegas namun penuh rahmat. Rasulullah SAW bersabda :
“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan, dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” HR. Bukhori
Hadis ini muncul untuk menjaga tatanan dan kejelasan identitas gender dalam kehidupan masyarakat. Tasyabbuh (penyerupaan ) dalam hal yang bersifat esensial seperti pakaian khas, gestur, dan cara bicara yang mencerminkan identitas lawan jenis, bukan sekedar soal penampilan, tetapi terkait dengan kemuliaan penciptaan. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan fitrah masing-masing, dan Islam menjaga agar batas fitrah itu tidak kabur. Hadis ini juga secara eksplisit menunjukkan ketegasan Islam dalam penyimpangan identitas dan ekspresi gender.
Namun demikian, refleksi saya bukan dalam rangka membenci individu, tetapi demi menjaga keteraturan sosial dan kehormatan kemanusiaan sebagaimana telah digariskan oleh syariat. Saya juga mencoba memahami bahwa sebagian besar remaja yang menunjukkan perilaku demikian mungkin sedang mencari jati diri. Bisa jadi mereka adalah anak-anak yang butuh perhatian, validasi, atau bahkan pelampiasan dari luka batin yang tidak tampak. Dalam konteks ini, ruang pendidikan bukan hanya ditantang untuk memberi batas identitas laki-laki dan perempuan, tetapi juga kasih sayang dan pendampingan terhadap siswa. Menolak perilaku bukan berarti menolak pelaku. Justru, membimbing mereka adalah wujud kasih sayang yang lebih tinggi daripada membiarkan mereka tersesat dalam sorakan dan tepuk tangan yang semu.
Saya memahami bahwa tidak semua orang akan memiliki sudut pandang yang sama terkait ini. Ada yang menganggapnya hanya sebagai bagian dari seni, kebebasan berekspresi, atau sebagai hiburan yang tidak perlu dipermasalahkan. Tetapi justru di sinilah tantangan zaman ini. Ketika batas antara nilai dan hiburan mulai kabur, Allah SWT sedang mengajarkan kita untuk lebih jeli, lebih kritis, dan lebih bertanggung jawab terhadap generasi yang sedang kita bimbing.
Kita diajarkan Allah SWT melalui surat Al-‘Ashr bahwa manusia itu berada dalam kerugian, kecuali manusia yang diantaranya; “Beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”
Ayat ini menuntun kita agar tetap mengedepankan keimanan, amal sholeh, dan berdakwah dengan sabar. Karena tidak mudah memberikan nasihat di tengah budaya yang memuliakan viralitas. Menjadi guru agama di era ini berarti menjadi saksi atas perubahan zaman. Namun lebih dari itu, itu adalah bentuk kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Diberi amanah untuk tetap menyuarakan nilai dalam dunia yang mulai kehilangan arah. Setiap kejadian, termasuk yang tampak menantang, adalah cara Allah membelajarkan manusia agar lebih tajam hatinya, lebih halus sikapnya, dan lebih tegas dalam berprinsip.
Wallahu a'lam bish-showab..




